Minggu, 16 Desember 2012

First Part of My Novel : They Are Perfect Things

Ini itu, bagian pertama dari novel yang pingin aku buat. Yang udah baca, diharapkan comment-nya yaa ..

 First Part : They Are Perfect Things

Cowok itu memasukkan kedua telapak tangannya pada saku jaket yang dipakainya. Berjalan tenang menyusuri koridor sambil sesekali tersenyum menanggapi cewek-cewek yang menyapanya.
            “Aries, wait!”
Terdengar suara teriakan lantang. Cowok yang dipanggil ‘Aries’ itu segera menoleh ke belakang. Ke arah darimana asal suara datang.
Seseorang dengan napas nggak beraturan segera stay di samping Aries.
“Can you tell me what is going on?” tanya Aries. Sengaja pakai Bahasa Inggris biar terkesan lebay. Biar setara lebay-nya sama anak yang ngos-ngosan kayak habis dikejar Bloody Mary tadi.
“You’ll really shock when I tell you that news!” balas Andrie. Napasnya masih gila-gilaan.
Yaelaa… masih lebay juga.
Aries memutar-mutarkan bola matanya. “Berita apa? N.A.S.A kebakaran? Dream Theater bubar? Super Junior mau bikin konser di Afrika?”
“Bukan, man. It’s a big no-no.” Andrie memberi tekanan pada kata ‘no-no’.
“Trus?”
“Yang pasti nggak ngaco kayak apa yang lo sebutin tadi,” sahut Andrie. Sedikit sebal. Ya, nggak sedikit, sih. Rata-ratalah. Mungkin sekitar 100%.
“Iya, iya. Trus apa? Capcuz gitu, dong. Buru-buru nih,gue.” Aries melirik jam di pergelangan tangannya.
“Oke, oke. Jangan kaget, ya!” Andrie menarik napas. “Gue jadi sama Vanessa.”
“Cewek emo XII IPS 2 itu?”
“Quite sure,” jawab Andrie dengan bangganya.
Aries memandang Andrie dengan tatapan kagum. “Lo. Cool. Man,” pujinya. “Congrats, ya! Baru elo yang bisa naklukin itu cewek.”
“Andrie!” Andrie berniat menyombong.
Setelah itu, keduanya tertawa.
Banyak dari penghuni koridor – yang didominasi oleh para kaum Hawa – menoleh untuk sekedar memperhatikan mereka tertawa.
Yeah, siapapun juga tahu – kecuali yang super duper pendiem, kuna bin kuper – kalau duo ‘A’ itu adalah idola para cewek di SMA Tunas Bangsa.
Mereka punya segudang charming yang bisa bikin cewek-cewek terpesona. Juga tipe cowok idaman yang dicari-cari setiap wanita.
Their physics and attitudes can make every girl have bleeding in their nose!
So, not amaze again if they called : perfect things.
“Eh, betewe, the painting mana?” tanya Andrie sambil celingukan.
“The painting?” Aries menyipitkan matanya. “Lisa maksud lo?” tanyanya lagi, memastikan.
“Mona Lisa,” ralat Andrie.
“Jahat banget lo ngatain dia the painting.”
“Lah? Iya, kan? Mona Lisa itu nama lukisannya Da Vinci? Lukisan misterius itu. Makanya orangnya juga misterius. Aneh bin ajaib,” jelas Andrie.
“Tapi, nggak harus sampe segitunya kale. The painting. Emang apaan the painting.”
“Jiahh… ngakunya Tunas Bangsa, the painting aja nggak ngerti. But, gue heran sama lo. Kok lo mau sama makhluk planet kayak dia.”
“Man, dia itu temen gue.”
“Iya, gue tau. Temen sih, temen. Lama-lama juga bakal jadi close friend. Trus lama-lama lagi, juga bakal jadi girlfriend.”
“Nggak mungkin.”
“Mungkin aja. Gue aja bisa dapetin Vanessa.”
“Tapi, masa’ gue ngedapetin Mona Lisa?” mata Aries menyipit. Cowok seratus tujuh puluh tiga centimeter itu cemberut.
“Lagian, siapa suruh lo malah milih deket sama dia? Nih, ya, cewek populer di Tunas Bangsa, ada Cindy, Jessie, Indira, Maggie, Retha, de-el-el, de-es-be, de-es-te. Dan semuanya pada mupeng kalo liatin lo.”
Aries diam saja. Omongan Andrie 50% ada benarnya juga.
“Lo konyol banget, deh,” kata Andrie lagi. Menatap Aries dengan panda-ngan licik.
“Gue sumpahin lo jadi sama dia. Bakal heboh tuh, satu sekolah. Popular vs nerd. Hahaha, klise,” lanjut Andrie sambil terkekeh sadis.
“Diem lo,” desis Aries. Mukanya tanpa ekspresi kayak vampir penghisap darah.
Kemudian, menoleh ke arah Andrie pelan-pelan seperti pada adegan di film-film horror. “Biasanya, malah yang nyumpahin yang kena imbasnya.
Mata Andrie segera melotot lebar sampai bola matanya mau keluar. “Enak aja! Yang deket kan, elo! Lagian, siapa juga yang mau sama cewek ajaib kayak dia,” ujar Andrie sewot.
“Makanya, jangan suka nyumpahin. Ntar, sumpahnya berbalik ke elo, lo juga yang repot. Lagi, gue tuh, nggak doyan sama yang namanya barang klise,” kata Aries. Setengah menasehati.
Andrie hanya bisa menghela napas sambil tersenyum kecut.
“Andrie.”
Terdengar panggilan lembut dari belakang Andrie. Merasa namanya dise-but, Andrie segera menoleh.
Kemudian, tersenyum manis saat mengetahui siapa yang memanggilnya tadi.
“Eh, iya, Say. Ada apa?”
“Mau nemenin gue fotokopi nggak?” ajak Vanessa. Penampilan cewek itu benar-benar emo. Pakai eye shadow plus haircut khas emo girl.
 Keren.
Aries pun berpikir begitu.
“Mau, dong. Dengan senang hati,” kata Andrie.
“Yakin?”
“Apa sih, yang nggak buat lo?” jawab Andrie dramatis. Melirik Aries yang kini memandanginya sambil pasang ekspresi kayak orang mau muntah.
“Apa? Ngiri lo?” Andrie tertawa. Kemudian, merangkul bahu Vanessa dengan sebelah tangannya.
“Makanya buruan tembak si Mona Lisa,’ lanjut Andrie lagi.
Oh, shit.
“Yuk, Ries. Duluan, ya!” pamit Vanessa.
Aries mengangguk kalem. Mencoba bertahan untuk tidak mendaratkan tangannya di kepala Andrie, karena cowok itu pergi sambil menjulurkan lidah ke arahnya. Menggoda atau bercanda?
Dua-duanya sama-sama bukan hal yang menyenangkan buat Aries.
Sialan.
Tapi,ya sudahlah. Namanya juga Andrie. He knows who is Andrie. And he also knows how crazy Andrie is.
Aries melanjutkan jalannya menuju kelas. Gara-gara Andrie, dia jadi lupa kalau PR Bahasa Inggrisnya sama sekali belum kelar.
Saat mau masuk kelas…
“Aries!”


                                ==To Be Continue ==


Tidak ada komentar:

Posting Komentar