Ini itu, bagian pertama dari novel yang pingin aku buat. Yang udah baca, diharapkan comment-nya yaa ..
Cowok itu memasukkan kedua telapak tangannya pada saku jaket yang dipakainya. Berjalan tenang menyusuri koridor sambil sesekali tersenyum menanggapi cewek-cewek yang menyapanya.
First Part : They Are Perfect Things
Cowok itu memasukkan kedua telapak tangannya pada saku jaket yang dipakainya. Berjalan tenang menyusuri koridor sambil sesekali tersenyum menanggapi cewek-cewek yang menyapanya.
“Aries, wait!”
Terdengar
suara teriakan lantang. Cowok yang dipanggil ‘Aries’ itu segera menoleh ke
belakang. Ke arah darimana asal suara datang.
Seseorang
dengan napas nggak beraturan segera stay
di samping Aries.
“Can you tell me what is going on?” tanya
Aries. Sengaja pakai Bahasa Inggris biar terkesan lebay. Biar setara lebay-nya
sama anak yang ngos-ngosan kayak habis dikejar Bloody Mary tadi.
“You’ll really shock when I tell you that
news!” balas Andrie. Napasnya masih gila-gilaan.
Yaelaa…
masih lebay juga.
Aries
memutar-mutarkan bola matanya. “Berita apa? N.A.S.A kebakaran? Dream Theater bubar? Super Junior mau bikin konser di
Afrika?”
“Bukan,
man. It’s a big no-no.” Andrie memberi tekanan pada kata ‘no-no’.
“Trus?”
“Yang
pasti nggak ngaco kayak apa yang lo sebutin tadi,” sahut Andrie. Sedikit sebal.
Ya, nggak sedikit, sih. Rata-ratalah. Mungkin sekitar 100%.
“Iya,
iya. Trus apa? Capcuz gitu, dong. Buru-buru nih,gue.” Aries melirik jam di
pergelangan tangannya.
“Oke,
oke. Jangan kaget, ya!” Andrie menarik napas. “Gue jadi sama Vanessa.”
“Cewek
emo XII IPS 2 itu?”
“Quite sure,” jawab Andrie dengan
bangganya.
Aries
memandang Andrie dengan tatapan kagum. “Lo. Cool.
Man,” pujinya. “Congrats, ya! Baru
elo yang bisa naklukin itu cewek.”
“Andrie!”
Andrie berniat menyombong.
Setelah
itu, keduanya tertawa.
Banyak
dari penghuni koridor – yang didominasi oleh para kaum Hawa – menoleh untuk
sekedar memperhatikan mereka tertawa.
Yeah,
siapapun juga tahu – kecuali yang super duper pendiem, kuna bin kuper – kalau
duo ‘A’ itu adalah idola para cewek di SMA Tunas Bangsa.
Mereka
punya segudang charming yang bisa
bikin cewek-cewek terpesona. Juga tipe cowok idaman yang dicari-cari setiap
wanita.
Their physics
and attitudes can make every girl have bleeding in their nose!
So, not amaze
again if they called : perfect things.
“Eh,
betewe, the painting mana?” tanya
Andrie sambil celingukan.
“The painting?” Aries menyipitkan
matanya. “Lisa maksud lo?” tanyanya lagi, memastikan.
“Mona
Lisa,” ralat Andrie.
“Jahat
banget lo ngatain dia the painting.”
“Lah?
Iya, kan? Mona Lisa itu nama lukisannya Da Vinci? Lukisan misterius itu.
Makanya orangnya juga misterius. Aneh bin ajaib,” jelas Andrie.
“Tapi,
nggak harus sampe segitunya kale. The
painting. Emang apaan the painting.”
“Jiahh…
ngakunya Tunas Bangsa, the painting
aja nggak ngerti. But, gue heran sama
lo. Kok lo mau sama makhluk planet kayak dia.”
“Man, dia itu temen gue.”
“Iya,
gue tau. Temen sih, temen. Lama-lama juga bakal jadi close friend. Trus lama-lama lagi, juga bakal jadi girlfriend.”
“Nggak
mungkin.”
“Mungkin
aja. Gue aja bisa dapetin Vanessa.”
“Tapi,
masa’ gue ngedapetin Mona Lisa?” mata Aries menyipit. Cowok seratus tujuh puluh
tiga centimeter itu cemberut.
“Lagian,
siapa suruh lo malah milih deket sama dia? Nih, ya, cewek populer di Tunas
Bangsa, ada Cindy, Jessie, Indira, Maggie, Retha, de-el-el, de-es-be, de-es-te.
Dan semuanya pada mupeng kalo liatin lo.”
Aries
diam saja. Omongan Andrie 50% ada benarnya juga.
“Lo
konyol banget, deh,” kata Andrie lagi. Menatap Aries dengan panda-ngan licik.
“Gue
sumpahin lo jadi sama dia. Bakal heboh tuh, satu sekolah. Popular vs nerd. Hahaha,
klise,” lanjut Andrie sambil terkekeh sadis.
“Diem
lo,” desis Aries. Mukanya tanpa ekspresi kayak vampir penghisap darah.
Kemudian,
menoleh ke arah Andrie pelan-pelan seperti pada adegan di film-film horror.
“Biasanya, malah yang nyumpahin yang kena imbasnya.
Mata
Andrie segera melotot lebar sampai bola matanya mau keluar. “Enak aja! Yang
deket kan, elo! Lagian, siapa juga yang mau sama cewek ajaib kayak dia,” ujar
Andrie sewot.
“Makanya,
jangan suka nyumpahin. Ntar, sumpahnya berbalik ke elo, lo juga yang repot.
Lagi, gue tuh, nggak doyan sama yang namanya barang klise,” kata Aries.
Setengah menasehati.
Andrie
hanya bisa menghela napas sambil tersenyum kecut.
“Andrie.”
Terdengar
panggilan lembut dari belakang Andrie. Merasa namanya dise-but, Andrie segera
menoleh.
Kemudian,
tersenyum manis saat mengetahui siapa yang memanggilnya tadi.
“Eh,
iya, Say. Ada apa?”
“Mau
nemenin gue fotokopi nggak?” ajak Vanessa. Penampilan cewek itu benar-benar
emo. Pakai eye shadow plus haircut khas emo girl.
Keren.
Aries
pun berpikir begitu.
“Mau,
dong. Dengan senang hati,” kata Andrie.
“Yakin?”
“Apa
sih, yang nggak buat lo?” jawab Andrie dramatis. Melirik Aries yang kini
memandanginya sambil pasang ekspresi kayak orang mau muntah.
“Apa?
Ngiri lo?” Andrie tertawa. Kemudian, merangkul bahu Vanessa dengan sebelah
tangannya.
“Makanya
buruan tembak si Mona Lisa,’ lanjut Andrie lagi.
Oh, shit.
“Yuk,
Ries. Duluan, ya!” pamit Vanessa.
Aries
mengangguk kalem. Mencoba bertahan untuk tidak mendaratkan tangannya di kepala
Andrie, karena cowok itu pergi sambil menjulurkan lidah ke arahnya. Menggoda
atau bercanda?
Dua-duanya
sama-sama bukan hal yang menyenangkan buat Aries.
Sialan.
Tapi,ya
sudahlah. Namanya juga Andrie. He knows
who is Andrie. And he also knows how crazy Andrie is.
Aries
melanjutkan jalannya menuju kelas. Gara-gara Andrie, dia jadi lupa kalau PR
Bahasa Inggrisnya sama sekali belum kelar.
Saat
mau masuk kelas…
“Aries!”
==To Be Continue ==
Tidak ada komentar:
Posting Komentar